RSS

Sejarah Beberapa Pemimpin Indonesia

12 Apr

Indonesia kini bertambah usia dan akan terus bertambah. Sudah hanpir enam puluh tiga tahun. Tentu bila dihitung dari hari kemerdekaannya. Umur yang sesungguhnya sangat memadai untuk belajar bijak dan berlatih dewasa. Meskipun tidak ada kata batasan dan kata sudah untuk belajar mandiri. Indonesia kini belum seperti apa yang didamba pelopor dan pendirinya.

Bangsa yang mempunyai generasi muda adalah bangsa yang mempunyai masa depan. Dan di tangan generasi muda inilah kebangkitan Indonesia akan segera terwujud sebagaimana kemerdekaan bangsa ini yang dapat dicapai oleh generasi muda tempo dulu. Memang banyak jalan menuju kesuksesan. Kita harus menjadi bangsa pelopor bukan bangsa pengekor. Pekerjaan besar kita saat ini adalah menumbuhkan kepercayaan diri dan kesadaran perlunya kebersamaan. Bangsa yang maju dan mempunyai harga diri adalah bangsa yang mandiri. Yang bergantung hanya kepada kekuatan kolektif diri sendiri (yang pada kenyataannya belum didayagunakan).

Sedih rasanya bila mengingat-ingat dan membaca biogeografi para pemimpin kita dahulu. Bukan karena buruknya mereka, tetapi kesedihan itu muncul manakala kita membandingkannya dengan sekarang. Sangat jauh sekali, bukan fisik dan kepandaiannya, melainkan etos kerja dan semangat yang membaja.

Perbedaan yang kita dapati saat rapat-rapat komisi, paripurna, maupun rapat pemerintahan adalah perbedaan-perbedaan yang wajar. Namun, tidak wajar lagi bila perbedaan itu berlanjut sampai di luar sidang. Terbuka sampai di depan pers. Bahkan saling mengancam, “Kalau berani membuka aib partai kami, kami juga akan membuka aib partai Anda.” Akhirnya kebijakan yang dihasilkan pun adalah kebijakan partai yang sangat tidak menguntungkan rakyat secara umum.

Pejuang-pejuang dahulu yang disebut pahlawan di hari ini juga menghadapi permasalahan yang sama atau bahkan lebih pelik dari sekarang. Perseteruan yang terjadi sangat tajam. Apalagi yang dihadapi saat itu adalah komunis yang notabene tidak mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta. Sehingga perdebatan yang terjadi pun sulit dicari jalan keluarnya karena perbedaan landasan berpikir dan ideologis.

Seperti diungkapkan dalam majalah Tarbawi, dalam suatu rapat Syarikat Islam (SI), Muso sedang berbicara di atas podium. Saat itu sedang panas-panasnya perseteruan SI putih dengan SI merah pimpinan Muso. Hadir juga H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim mendengarkan pidatonya. Di atas podium Muso menyindir, orang yang berjenggot seperti apa saudara-saudara? Para pendukungnya menjawab, “Kambing!” Muso bertanya lagi, Orang yang berkumis itu seperti apa saudara-saudara? Dijawab oleh pendukungnya, “Kucing!” Muso menyindir Agus Salim yang berjenggot dan Tjokroaminoto yang berkumis. Setelah Muso turun dari podium, Agus Salim naik ke atas mimbar. Langsung ia berkata, “Tadi kurang lengkap saudara-saudara. Yang tidak berjenggot dan berkumis itu seperti apa?” “Anjing,” ujarnya. Demikianlah kegusaran lawan-lawan politik Agus Salim.

Namun, ada soal menarik mengenai hubungan Agus Salim dengan Sutan Syahrir, yang juga tidak sejalan dengan Agus Salim. Menurut penuturan Syahrir, ia bersama sekelompok pemuda pernah sengaja mendatangi rapat di mana Agus Salim akan berpidato. Menurut Syahrir ia memang bermaksud mengacau pertemuan itu (Tarbawi, No:27). Setiap kalimat yang diucapkan Agus Salim mereka sambut dengan mengejek jenggotnya.

Setelah ketiga kalinya mereka menyahut ucapan Agus Salim dengan “mbeek…mbeek…mbeeeek”, Agus Salim mengangkat tangannya sambil berkata, “Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya saja mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekedar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilahkan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka.

Syahrir menuturkan, “Saat itu kami tidak meninggalkan ruangan. Namun muka kami merah melihat gelak tawa para hadirin lainnya.” Yang menarik, hubungan yang tidak harmonis di medan politik, tidak menghalangi Agus Salim untuk menerima Sutan Syahrir menginap di rumahnya. Bahkan mereka makan bersama dan bisa bercanda < Hnf

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2008 in Artikel

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: