RSS

SIPOH : Silaturrrahmi POH Rohis Al Uswah

24 Feb

Satu dari sekian banyak kenangan bersama Rohis Al Uswah 2001-2002

Menjadi PH (lebih dikenal dengan POH, Pelayan Oemat Harian) Rohis Al Uswah adalah sebuah amanah yang susah-susah mudah. Susahnya adalah, saat itu (POH angkatan 2001-2002) menjadi tumpuan harapan “reformasi” Rohis yang sempat amburadul di tahun-tahun sebelumnya. Mudahnya, kita tidak perlu meretas dari awal karena Rohis sebelumnya yang di ampu oleh “pendekar-pendekar sakti” yaitu Rinaldi Tri Frisianto, Zudi Saputro, Muh. Fauzan, Prima Hastini, Rifa Nurhayati, dkk telah membuat Rohis menjadi sebuah tempat yang menyenangkan dan menyejukkan daripada Rohis sebelumnya. Kesan Rohis serem dan garang, berangsur-angsur hilang karena kelucuan mereka (^_^), ke-grapyak-an dan kepedulian mereka.

Salah satu program yang baru diadakan saat kepengurusan Rohis angkatan kami (2001-2002) adalah SIPOH, Silaturrahim POH. Tujuannya adalah untuk mengenal lebih dekat POH Rohis yang ada saat itu, bahkan dengan keluarganya, menegnalkan bahwa inilah, kami teman anak putra-putri bapak dan juga memberikan gambaran Rohis dan agendanya ke orang tua POH. Jadi SIPOH ini dilakukan bergilir dari rumah ke rumah POH Rohis yang ada setiap bulan sekali. Bukan pekerjaan yang mudah meluangkan waktu untuk SIPOH ini, namun karena memang sudah ditetapkan, maka semua POH beriltizam untuk mengagendakannya.

POH Rohis saat itu (2001-2002) adalah Zainuri Hanif, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Dimas Iwandanu, Bulan Kakanita Hermasari, Lu’lu Khusnul Muthia, Sari Widyastuti, Dewi Anggun, Hanifah Ar-Rozi, Ririn Dyah, Adnan Anwar, Nurgoho Setyo Hutomo, Surya Ardhi, Chabib A, Imam Manggalya, Mukaromah, Ratna Ekasari Prihandini, Khoirul Bariyah, Rudi Cahyo dan Rahmat Saputro.

Jalannya SIPOH

Karena jadwal SIPOH kebanyakan dilakukan saat pulang sekolah sangat mepet, kita perlu cermat dan gesit, yaitu pengaturannya harus seefisien mungkin. Kadang (saat itu) terpaksa pulang malam juga. Misalnya ketika SIPOH di rumah Khairul Bariyah (sekarang PSIK 2004) di selatan Pegadaian Godean, dekat pasar Godean, saya dan Shofwan terpaksa berjalan kaki karena bus tidak ada lagi. Karena sudah menjelang maghrib, motor yang seharusnya saya pakai dengan Shofwan dipinjamkan ke Lu’lu bersama akhwat lain yang sudah tidak mungkin lagi menunggu bus yang jelas tidak kunjung datang. Walaupun untung-untungan sampai kapan menunggu busnya, akhirnya kita berdua berjalan ke arah Jogja ditemani matahari senja. Setelah beberapa kilometer, tidak disangka, segerombolam motor sewaktu melaju berlawanan arah dengan kami, berbalik. “Waduh…, kita mau dihadang ni Shof?” Shofwan pun agak ketar-ketir juga, soalnya juga nggak kenal, tapi kok manggil-manggil Shofwan. Ketika sudah menghampiri kami, mereka malah menawarkan tumpangan. Nah lho? Ooo, ternyata mereka adalah remaja masjid Jogja Barat yang kenal dengan rupa Shofwan yang cah Jogokaryan. Karena merasa kasihan akhirnya kita diantar sampai mendapatkan bus terakhir di daerah pertigaan Demak Ijo ke selatan. Alhamdulillah…

SIPOH berikutnya ke rumah Rahmat Saputra (sekarang Sosiologi 2004) di daerah Kricak Kidul. Beberapa alumni kita undang juga saat itu ada ma Andri, Brama, dr.Taufik, dll. Baik dari KSAI maupun yang tidak KSAI kita undang. Walaupun pak Wasis tidak setuju dengan istilah ini. ^_^ SIPOH yang menarik juga di rumah Imam Manggalya, di daerah Jakal selatan UII. Anak yang eksentrik ini memang unik dari kelas 1 dulu. Energik, lucu dan nyleneh. Makanya perlu di silatuurahmini… (hehehe). Saya ingat benar saat itu mas Andri KSAI 98 sebagai pengisi SIPOH ”menyindir-nyindir” kami (bahasa halusnya memarahi J ) yang POH utama (Hanif, Shofwan, Nugroho, Rudi, Rahmat) justru terlambat dengan amat sangat. Jam sudah 16.30 kita baru datang. Padahal acara dimulai Asar. Jadilah disana cuma numpang makan. Penyebabnya adalah saling menungu. Mulai dari depan TVRI, sampai per ¼ ring road. Yang ditunggu yaitu Rahmat (dan Inug yang membonceng) bannya bocor, terus pulang dulu di daerah Kricak Kidul. Di rumah Rahmat malah menyempatkan makan dan mandi… Masya Allah… Padahal yang menunggu sudah sampai kering…

Karena POH yang ikhwan sudah 3x dijadikan tempat SIPOH, giliran yang akhwat. Pertama kali POH menyambangi Rumah Ratna Ekasari Prihandini di Temanggung. Jauh-jauh disempatkan ke Temanggung dengan berbagai macam kendaraan. Ada yang naik motor, naik bus dan nebeng di mobilnya Imam Manggalya. SIPOH ini yang paling berkesan karena ”penuh masalah”. Yang naik motor, akh Nugraha kecelakaan dengan menghantam pagar jembatan saat tidak bisa mengusai motor di belokan tajam. Untung saja tidak nyebur sungai. Tapi motornya remuk, motornya Rahmat Saputra T_T. Akhirnya motor dititipkan dan boncengan dengan motor yang lain yang masih kosong. Dalam perjalanan beragkat tersebut masih juga ada hambatam. Akh Shofwan yang memakai motor saya kena tilang, nggak punya SIM. Mobilnya Imam Manggalya juga bertabrakan dengan mobil orang lain. Beberapa ratus ribu pun melayang. Mobilnya lecet-lecet lagi, tapi nggak keluar darah kok, jadi tidak perlu di-perban.. (hehehe :). Untungnya Imam Manggalya tidak minta ganti rugi ke Rohis… ^_^

Yang selamat saat berangkat tanpa ada hal yang berarti adalah yang naik bus, yaitu saya, Dimas, Husna dan Dini. Walaupun sempat megap-megap juga bau rokok di bus. Ternyata rombongan yang terakhir sampai adalah kami yang naik bus. Yang lain sudah tipas-tipas di rumah Dini di sebelah utara Gudang Merah tembakau, timur jalan. Sampai di sana, seperti tujuan awal yaitu mengenalkan POH kepada keluarga Dini. Alhamdulillah orang tua Dini justru bersyukur melihat teman-teman Dini kaya gini… (agak lucu-lucu ra nggenah githu ^_^). Jauh berbeda dengan pesangkaan selama ini yang Rohis katanya serem dan sangar. Malah menitipkan anaknya sama temen-temen POH Rohis.

Akhirnya yang ditunggu datang juga, masakan POH akhwat disantap habis oleh Imam Manggalya, dkk ^_^ Setelah agak sore, POH berpamitan. Yang ikhwan disempatkan mampir ke rumah Iqbal Fellani (sekarang Teknis Mesin 2004) yang ada di Temanggung juga, sedangkan yang akhwat pulang dengan Imam Manggalya. Di rumah Iqbal Fellani kita mendapatkan asupan gizi lagi…. ^_^ . Ternyata, cobaan belum sepenuhnya meninggalkan kita. Ditengah perjalanan pulang, motor saya ternyata remnya blong. Karena di depan ada bus yang mengerem mendadak, akhirnya banting stir ke kiri dan terjungkal masuk selokan. Rem depan satu-satunya ikut patah. Alhamdulillah kami tidak apa-apa, hanya lecet-lecet. Jadinya pulang ke Jogja dari Temanggung tanpa rem dan sampai rumah jam 22.00. Sebuah perjalanan yang sangat mengesankan.

Bulan berikutnya kami nggak kapok, tetep silaturrahim ke rumah Dewi Anggun di Muntilan, Jateng. Saat itu entah karena alasan apa, banyak POH yang membatalkan diri. Karena memang sudah terjadwal, beberapa ikhwan tetap ke sana dan sholat Jum’at di masjid dekat rumahnya. Keluarganya menyambut dengsan sangat baik dan memberi oleh-oleh buah salak.

Pada Bulan Ramadhan, SIPOH diselenggarakan di rumah Ririn Diah di daerah Banguntapan dalam bentuk buka bersama. Dalam SIPOH ini temen-temen MPK dan OSIS kita undang juga. Acara berlangsung sampai menjelang Isya dengan kajian dari KSAI Al Uswah. Untuk angkatan 2003, SIPOH baru sempat dilaksanakan di rumah Bulan Kakanita Hermasari (Husna lulusan KU Undip) di daerah jalan Glagah Sari dekat sawah.

Sedangkan yang ikhwan sering sekali menjadikan rumah Shofwan sebagai basecamp sampai menginap beberapa kali melembur berbagai buletin (SALAM, Teladan Daarussalam, buletin-buletin) dan agenda dakwah lainnya. Yang paling menyenangkan adalah ketika cari makan malam yang bisa juga dianggap makan pagi-pagi karena jam 01.00-02.00-an, suasana Jogja begitu nikmat. Belum pernah sebelumnya makan gudeg dalam pagi buta seperti itu.

Dalam SIPOH ini, kita bisa memetik pelajaran yang sangat penting. Yaitu, jangan menawarkan dengan basa-basi makanan ke POH, temen-temen pasti menganggapnya serius! Seperti yang kami alami saat itu. Akh Shofwan yang ditawari berbagai makanan oleh ayah salah seorang POH menyambut dengan senang sekali. Saat itu sang ayah memberi kami gorengan tempe dan tahu. Nah, karena adat orang jawa, sang ayah pun bilang : ”Monggo mas, dikedapi sa entenipun.” Shofwan tak lupa berterima kasih. ”Oh nggih, matur nuwun”. Nah, entah kenapa sang ayah tadi menambahkan, ”wah, mboten ngangge sambel mas?”. Nah, tanpa ba-bi-bu dijawab Shofwan, ”Oh, njih, pundi?”… Tuiiing… tampak sang Ayah gugup… ”Nuwun sewu mas, sambele tasih teng kulkas, dereng diuleg je…” waduh… merah padam tuh muka sang Ayah… saya yang menonton adegan itu tak bisa menahan tawabegitu beliaunya pergi ke dalam… Oalah, cah Rohis-cah Rohis ■ hnf

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on February 24, 2008 in Al Uswah

 

Tags: , , , , , , ,

2 responses to “SIPOH : Silaturrrahmi POH Rohis Al Uswah

  1. shofwan al-banna

    May 8, 2008 at 16:24

    Black campaign ke ane nih…hwehehehe

    Rindu masa-masa itu…

    Like

     
  2. dhinie

    August 7, 2008 at 06:51

    Ass…
    Haloo mas khanif 😀
    huhuhuhu, ketempatku yak yang paling nelangsa 😦
    Maaf nggih ^^ semoga ga kapok 😀

    ga terasa dah hampir 6 apa 7 tahun ya berlalu.
    moga POH yang sekarang makin baik
    Wass…

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: