RSS

Da’wah dan Loyalitas Khusus

24 Feb

Tak ada yang tak terikat dalam hidup ini. Air terikat dengan anatomi H2O-nya. Matahari, bumi, dan bulan terpaku pada lintasan orbitnya. Binatang terbelenggu dengan habitatnya. Meski, ada monyet yang pandai berjoget, beruang menggenjot sepeda, lumba-lumba pintar menghitung,singa menerobos lingkaran api, gajah bermain bola, tapi toh mereka binatang yang tak kan berubah jadi manusia. Semua terikat dengan berbagai status dirinya itu. Keterikatan dengan status itulah dasar loyalitas kepada apa atau siapa saja. Bila loyalitas ini rusak, rusak pula semuanya. Sekali harimau mendekam di kebun binatang, ia tak akan selincah kala masih di hutan. Begitu juga manusia, begitu unsur loyalitasnya tumpul, mata buta, hati mati, telinga tuli, “Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (Al A’raf : 179).

Lalu, apa bentuk loyalitas seorang muslim yang harus digenggam erat? Ada dua loyalitas utama yang mengikat seorang muslim. Jika loyalitasnya kacau, akan binasalah dirinya. Lebih-lebih seorang da’I, ulama atau tokoh umat. Bila loyalitasnya hancur, hancur pula umat semua. Ada pepatah mengatakan, “Tergelincirnya ulama, adalah tergelincirnya dunia” (zallatul ‘alim zallatul ‘alam). Dua loyalitas itu, pertama, loyalitas kepada syari’at Islam (iltizam syar’I). Di sini seorang muslim diukur sejauh mana loyalitasnya kepada hukum Islam. Batasan yang digunakan meliputi lima hukum Islam : wajib, sunnah, makruh, halal, dan haram. Dengan hukum ini seorang muslim diikat. Saat dia berdagang, berdiam di rumah, bertetangga, bertamu, mengajar, mengelola perusahaan, menjadi pejabat, semuanya harus dijalakan sesuai rambu-rambu syari’at. Tidak boleh menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Loyalitas dalam bidang ini, tak terbatas pada apa-apa yang harus terekspresikan secara lahiriyah semata. Namun, ia juga berbicara soal bathin dan hati yang tersembunyi. Karenanya riya’ yang tersembunyi amat ditakutkan Rasulullah pada ummatnya. Sebab ia wujud unloyality bathin kepada syariat. Sebagaimana Al Qur’an juga menegaskan, tidak hanya kejahatan ajktual yang dilarang, “Katakanlah : Seseungguhnya Rabb-ku mengaharamkan kekejian yang nampak maupun yang tersembunyi.” (Q.S. Al A’raf:33) Loyalitas syari’at membutuhkan daya dukung loyalitas komunitas (iltizam jama’I). Secara jelas , kebutuhan akan loyalitas syari’at dan loyalitas komunitas dapat kita fahami dalam firman Allah, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dn janganlah kamu bercerai-berai.” (Q.S. Ali Imron : 102-103)

Ayat tersebut berbicara tentang dua masalah utama. Loyalitas syar’I-yaitu menjadi orang bertakwa dan berpegang teguh kepada tali Allah-membutuhkan daya dukung loyalitas komunitas (dan janganlah kamu bercerai berai). Seacra kultur, orang sulit menjadi baik atau bertahan dalam kebaikan bila ia secara gegabah berani hidup sebatang kara. Apalagi, tak mungkin seorang muslim dengan egois ingin baik sendiri dan masuk surga sendiri. Ketahanan diri seorang muslim memerlukan partner untuk saling menasehati. Siapa saja komunitas yang layak diberika kepadanya loyalitas seorang muslim ?

Loyalitas kepada sesama muslim, menduduki peringkat pertama. Sebut saja loyalitas kemusliman. Loyalitas kemusliman, akan banyak berdimensi sosial dan moral. Seperti dalam soal muamalah, bisnis, infak, kerjasama, dan semisalnya. Karenanya, dalam bahasa Rasulullah, “Orang muslim itu adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari Muslim) .
Dalam konteks sosial seorang muslim harus menjadi rahmat bag orang lain. Melalui lidah dan tangan itulagh seorang muslim mengekspreikan jati dirinya. Dalam hadits-hadits lain juga bisa ditemukan tentang keharusan seorang muslim membangun loyalitas kemusliman. Dengan cara memenuhi hak-hak sesama muslim, dan mendahulukan mereka dalam urusan-urusan moral dan sosial. Seperti disabdakan Rasulullah, “Hak seorang muslim atas muslim ada enam. Mengucapkan salam bila bertemu, menjenguk bila sakit, menasehati bila dimintai nasehat, menghadiri undangannya, mendoakannya saat bersin, dan mengikuti jenazahnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Di atas loyalitas kemusliman, ada loyalitas untuk komunitas orang-orang beriman, Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, yang artinya, “Dan orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan adalah sesama mereka itu adalah saling memberi loyalitas.” (Q.S. At Taubah : 71). Kedudukan loyalitas ini lebih tinggi, karena keimanan memang lebih tinggi dari keislaman, meskipun keduanya saling beririsan. Makanya, di zaman Rasulullah, orang-orang Badui yang merasa telah beriman, padahal baru masuk Islam ditegur langsung oleh Allah. Orang-orang Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah Islam (tunduk).’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Q.S. Al Hujurat : 14).

Loyalitas ini, sebut saja loyalitas kemukminan. Yaitu loyalitas yang diberikan seorang mukmin kepada mukmin lainnya. Dimensinya tidak saja pada aspek sosial dan moral, tapi juga soal politik dan ideologi. Banyak ditemukan hadits-hadits yang berbicara dalam konteks loyalitas kemukminan dan dimensinya sosial serta moral. Mislanya, sabda Rasulullah, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya.”Atau sabdanya yang lain, “ Demi Allah, dia tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : ”Orang yang tetangganya tidak aman dari ulahnya.” (Muttafaq ‘alaih). Namun, loyalitas kemukminan yang berdimensi sosial moral ini tekanannya pun lebih kuat. Seperti sabda Rasulullah, “Perumpamaan orang-orang mukmin yang saling mencintai, mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota yang sakit seluruh anggota tubuh akan ikut terjaga don merasakon demam.””(Muttafaq ‘alaihi).

Adapun loyalitas kemukminan dalam bidang ideologi dan politik, sangat tegas bisa dilihat dalam firman Allah, “Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu.” (QS. AI Ma’idah: 51 ). “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul Nya dan orang orang mukmin, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah. “ (QS. AI Ma’ idah: 55).

Atau seperti firman Allah, “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yong beriman kepada Allah dan hari akhirat,saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul Nya, sekalipun orang itu bapak bapak, atau anak anak atau saudara saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22).

Nabiyullah Ibrahim adalah sosok agung yang loyalitas kemukminannya diabadikan dalam Al Quran, ketika ia berlepas diri dari kemusyrikan ayah dan kaumnya. Sebab, kepada orang kafir, hanya bisa diberikan loyalitas kemanusiaan. Itu pun harus dalam bingkai untuk menda’wahi mereka. Secara manusiawi mereka tetap harus diberikan hak hak kemanusiaannya. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yong tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu, Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8).

Da’wah dan Loyalitas Khusus

Bila kita berbicara dalam konteks da’wah,maka loyalitas di atas masih membutuhkan loyalitas lain, sebut saia loyalitas komunitas da’wah. Tuntutan da’wah kian hari kian berat. Interaksi da’wah tidak lagi bisa terpaku hanya dari mimbar ke mimbar. Tidak juga sekadar tatap muka orang per orang. Peluang da’wah untuk memasuki medan yang amat luas telah terbuka lebar. Da’wah akan menemui jati dirinya. Karena memang begitulah aslinya. Karenanya, da’wah perlu loyalitas tambahan lagi dari sekadar loyalitas kemusliman dan kemukminan. Da’wah perlu loyalitas khusus dari orang orang mukmin yang secara khusus mengikrarkan diri untuk berjuang membela Islam dan menegakkan kebenaran.

Adanya komunitas khusus seperti ini sah sah saja. Demikian pula loyal kepada komunitas tersebut, tak ada salahnya. Ada banyak dasar pembenarannya. Pertama, dari sisi aqidah, orang yang secara khusus berjanji untuk setia membela Islam adalah berjanji untuk Allah. Dan, karenanya, ia tak disia siakan Allah. Seperti diabadikan Allah dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya orang orang yang berjanji setia kepadamu di bawah pohon adalah berjanji kepada Allah, Tangan Allah di atas tangan mereka.Maka barang siapa melanggar janji itu, sesungguhnya akibatnya kepada diri mereka sendiri. Dan barang siapa memenuhi janji itu, maka Allah akan memberi balasan yang sebaik-baiknya. ” (QS. Al Fath: 10)

Kedua, dari landasan Sirah, ini hal yang sangat lumrah dalam tradisi perjuangan Islam, bahkan dalam kehidupan umumnya. Kala itu Rasulullah memiliki orang orang khusus yang berjanji setia untuk mengikuti dan membela Rasulullah. Seperti dua belas orang yang berbaiat kepadanya pada Baiat Aqabah pertama,atau tujuh puluh tiga orang para baiat Aqabah kedua. Ketiga, secara fiqih, sesama mukmin boleh saling membuat konsensus (musyarathah), atau saling membuat keterikatan. Seperti disabdakan Rasulullah, “Orang orang muslim itu terikat dengan syarat syarat yang dibuat di antara mereka.”‘ (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan AI Hakim).

Tentu saja, konsensus yang tidak melanggar syariat Allah. Rasulullah saw bersabda, “Setiap syarat yang tidak dibenarkan oleh kitabullah maka hukumnya bathil meski seratus syarat.” (Abu Dawud dan AI Hakim). Dan, berjanji untuk membela Islam, adalah termasuk konsensus (musyarathah) yang dibenarkan. Keempat, bisa juga ia didasarkan kepada semangat ukhuwah khusus.

Maksud dari ukhuwah khusus adalah apa yang dilakukan Rasulullah ketika melakukan persaudaraan khusus begitu tiba di Madinah. Seperti Ja’far bin Abi Thalib yang dipersaudarakan dengan Mu’adz bin Jabal, Abu Bakar dengan Kharijah bin Zuhair, Abu Ubaidah bin Jarrah dengan Sa’ad bin Mu’adz, Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Waktu itu, persaudaraan khusus di Madinah tersebut melahirkan banyak hak hak khusus dan keterikatan khusus. Bahkan sampai saling rnewarisi. Hanya, soal waris kemudian dibatalkan dengan peraturan khusus melalui turunnya ayat ayat waris. Mengomentari persaudaraan khusus itu, Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad mengatakan bahwa hukum ukhuwah khusus itu tidak dihapus (tidak mansukh). Artinya, ia masih bisa diterapkan, kecuali soal yang telah ditetapkan hukumnya seperti hukum waris. Minimal diberlakukannya ukhuwah khusus bisa dilandaskan untuk mewujudkan apa yang memang seharusnya ada dalam ukhuwah umum sebagaimana diperintahkan dalil dalil AI Qur’an dan sunnah.

Hubungan para da’i dengan da’wah melalui loyalitas khusus, adalah hubungan timbal balik. Artinya, tidak saja da’wah yang perlu clukungan loyalitas komunitas khusus, tapi para da’i juga perlu kepada loyalitas tersebut. Sebab, ketika da’wah makin melebar, dan profesi para da’i sudah banyak tersebar di berbagai sektor, maka peluang terjadi iritasi iman, moral, dan semangat da’wah akan besar.

Era dunia kali ini memang kotor. Banyak orang tidak punya kekebalan menghadapi lingkungan yang penuh dosa. Tapi tak mungkin sebagai mukmin lantas lari dan beruzlah dari realitas ini. Sebaliknya, bagaimana setiap mukmin punya “tempat kembali” yang jelas, tempat meluruskan kembali hati dan niat, tempat sesama orang beriman saling mengambil nasehat, dan tempat para da’i menyusun strategi. Tempat itu adalah komunitas da’wah.

Dan, komunitas da’wah itu adalah jama’ah da’wah. Dalam bahasa yang lebih sederhana, seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib ketika ditanya olen 1bnu Kawa’ ,” Berjama’ah adalah setia bersama komunitas orang orang yang memegang teguh kebenaran (al haq) meskipun mereka sedikit. Sedang meninggalkan berjama’ah adalah bergabung dengan orang orang yang bathil meskipun mereka banyak.” Da’wah dan para da’inya sekali lagi membutuhkan loyalitas komunitas khusus. Apa sebab, karena “Sesungguhnya syaithan itu serigala bagi manusia. Sebagaimana serigala, ia akan menerkam domba yang menyendiri dan terlepas dari rombongannya. Maka, jauhilah oleh kalian menyendiri., dan hendaklah kalion selalu loyal kepada jama’ah.” (HR. Ahmad).

“Jauhilah oleh kalian bercerai berai, dan hendaklah kalian berpegang teguh berjama’ah, karena sesungguhnya syaithan itu bersama orang yong sendirian, dan ia bersama dua orang akan lebih jauh.” (HR. Tirmidzi)
Jangkar Islam 2002.doc

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on February 24, 2008 in Artikel

 

Tags: , , , ,

One response to “Da’wah dan Loyalitas Khusus

  1. fealsike

    May 23, 2009 at 04:09

    hm.. cognitively )

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: