RSS

Saatnya yang Muda Memimpin

30 Sep

Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hamshire’s Franconia College pada tahun 1970 dalam umur 23 tahun. Ia tercatat sebagai rektor termuda sepanjang sejarah Amerika Serikat. Ia mendapat tugas melakukan turn oround kondisi yang centang perenang di kampus itu. Sejarah akhirnya mencatat, ia tidak hanya sevagai yang termuda, tetapi juga rektor tersukses dalam melakukan transormasi internal pada lembaga pendidikan yang terancam bangkrut tersebut, merangkak kembali menjadi salah satu institusi pilihan masyarakat.

Di kancah politik nasional, sekarang ini sering kita lihat penampilan Anis Baswedan yang energik, kritis dan berani dalam wacana kebijakan pemimpin. Maklum, background Anis adalah mantan aktivis. Namun, siapa yang menyangka dalam usia 38 tahun, ia justru dipilih menggantikan sosok Cak Nur sebagai rektor Universitas Paramadina. Ubaidilah dalam artikel Kompas, (28/09/07) mengupas kondisi ini dengan mempertanyakan: “Adakah universitas-universitas tersebut kekurangan sumber daya senior yang berpengalaman sehingga harus mempertaruhkan reputasi universitas yang telah puluhan tahun terbina baik di tangan tokoh-tokoh muda yag bagi sebagian orang dianggap “anak kmarin sore” sehingga tidak cukup berpengalaman untuk mengemban tanggung jawab yang besar?”

Ada sebuah trend baru di kalangan universitas —seperti UI yang rektor barunya Prof.Gumilar berusia 44 tahun, juga direksi dan pimpinan departemen di fakultas yang berusia 20-30-an tahun—dimana universitas memang menjadi garda terdepan dalam mencari sosok pemimpin bangsa masa depan. Bukan sekedar wacana, namun wacana perlunya pemimpin baru diimplemantasikan dalam tataran nyata di lapangan. Seolag-olah universitas menjadi ruang praktikum besar sebelum mengelola Negara. Toh tidak bisa dibantah juga bahwa Negara ini kebanyakan menterinyad ari dulu berasal dari kalangan akademisi, entah itu dari UGM, UI, ITB, IPB, ITS dan lain sebaginya.

Pemimpin itu melalui proses pembentukan. Tidak ada seorang pemimpin di dunia ini yang tiba-tiba nongol dan dipercaya menyelesaikan banyak masalah. Seorang Ahmadinejad sebelum menjadi Presiden Iran, perlu waktu 10 tahun membuktikan eksistensinya untuk pantas memimpin negaranya. Ia menjadi walikota dan gubernur terlebih dahulu. Dengan karya dan prestasinya, disertai ketegasan sikapnya, Ahmadinejad mampu mendobrak hegemoni Barat.

Kepemimpinan yang Bertahap

Di Indonesia, ada sinar harapan beberapa pemimpin yang dipandang layak memimpin bangsa ini ke depan. Tapi memang kebanyakan dari mereka butuh waktu, kesempatan dan pembuktian mengukir sebuah prestasi. Suatu hal yang sekarang hangat dipertaruhkan dan diperdebatkan dalam tataran politik nasional antara “partai tua” dan “partai muda”, antara “politisi busuk” dan “politisi reformis”.

Betapa sulitnya mencari orang tua yang baik. Simak saja Komisi Yudisial (KY) sebagai komisi pengawasan hakim, ternyata tersusupi oleh penghianat licik dan culas. Memang Komisi Pemberantasan Korups (KPK) juga tersusupi beberapa waktu yang lau dengan kasus suap, namun posisi penyusup itu di jajaran menengah, tidak seperti KY yang di jajaran top leader. Apa jadinya bangsa ini jika orang yang kita percaya dalam pemberantasan korupsi, ternyata justru melakukan praktik tercela tersebut. Untung saja, Ketua KY, Busyro Muqoddas sangat kooperatif dengan pihak berwajib. Dan semoga KPK yang baru, kualitasnya minimal sama dengan yang kemarin, karena isu penyusupan intel (BIN) dan kader partai politik kuat berembus.

Dalam jajaran kepemimpinan daerah, kita masih punya harapan. Salah satunya adalah Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad. Sosok kepemimpinan beliau sangat bagus. Terbukti di Pilkada kemarin, ia memenangi lagi kursi gubernur dengan kemenangan melebihi 80% sehingga mendapat penghargaan Rekor MURI sebagai kemenangan Pilkada dengan presentase tertinggi di Indonesia.

Dengan jelinya, ia memilih komoditas Jagung sebagai tanaman unggulan yang mampu meningkatkan taraf hidup penduduknya. Dalam dua tahun saja produksi meningkat 10 kali lipat. Begitu juga kebijakannya di sektor kelautan yang sangat pro nelayan.

Teman saya bercerita baru saja kembali KKN UGM dari Gorontalo. Mendengar ceritanya saya sangat mengerti bahwa pengalaman KKN di sana begitu berkesan baginya. Teman saya tersebut sangat kagum, program KKN yang diusungnya disokong penuh oleh semua Dinas yang ada sesuai instruksi Gubernur Fadel Muhammad. Bahkan, ada salah satu dinas yang sedang kosong kasnya, kepala dinas beserta jajarannya menggalang dana dengan iuran, mengumpulkan dana pribadi untuk membantu program KKNnya. Semua pelaksanaan didukung pemerintah daerah, bahkan tiket pulang pun dibelikan. Tentunya sikap aparat tersebut tidak lepas dari sosok sang Gubernur yang memimpin tadi. Semoga di daerah lain, bermunculan Fadel Muhammad baru. Harapannya kemudian, di level nasional kita disuguhi banyak pilihan pemimpin berkualitas yang terbukti sudah berprestasi di ranah/level yang lebih rendah. Semoga….

Zainuri Hanif

Ambarrukmo, 30 September 2007

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2007 in Artikel

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: