RSS

Rujukan Pertama Setiap Perselisihan adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah

30 Sep

Kitab Allah (Al Qur’an) adalah rujukan pertama dalam setiap perbedaan pendapat dan perselisihan. Firman Allah SWT : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa : 65).

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)…” (QS. An Nisa’ : 59)

Langkah Pertama yang harus kita ambil untuk menyelesaikan perselisihan yang muncul antara kita dengan jamaah lain adalah mengembalikan permasalahan itu kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul.

Tahkim (cara pengambilan keputusan) ini adalah masalah yang bersifat Imaniyah dan Aqidah. Cara inilah yang harus kita tempuh. Kita harus yakin dan berpegang teguh dengan keimanan ini. Karena di dalam Al-Qur’an ada sumpah yang menafikan iman bagi orang yang tidak kembali kepada kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAW dalam menyelesaikan perbedaan dan perselisihan.

Keputusan ini harus dapat menjadikan hati kita merasa puas. Dapat melepaskan segala pertentangan di dalam benak kita tidak hanya di mulut. Dan selanjutnya kita tampakkan penerimaan kita pada keputusan tersebut.

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’dly –semoga Allah mengasihinya-berkata dalam tafsirnya, pada penjelasan ayat tersebut :

“Cara berhukum seperti ini ada di tempat Islam. Perasaan lapang dalam menerima keputusan ada di tempat Iman. Dan ketaatan pada keputusan ada di tempat Ikhsan. Orang yang telah memiliki kesempurnaan dan menyempurnakan semua tingkatan ini, berarti telah sempurnalah semua tingkatan agamanya. Orang yang meninggalkan cara berhukum seperti ini dan tidak komitmen pada hukum ini (Al Qur’an dan Sunnah) maka dia telah kafir. Sedangkan orang yang tidak menggunakan cara berhukum seperti ini, namun dia masih komitmen, maka hukumnya sama dengan orang yang bermaksiat (durhaka). (Syaikh as-Sa’dy, Tafsir Al-KArim ar-Rahman fii Tafsir Kalam al-Manan, 1:365)

Jadi di dalam setiap kritikan, si pengkritik harus selalu menjauhkan nafsunya dan mengemukakan kritiknya berdasarkan petunjuk cahaya Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan pada ijtihad pribadinya atau pemahamannya sendiri tentang nash yang bersangkutan dengan hal tersebut.

Sesungguhnya ijtihad dan pemahaman seseorang itu tidak bisa menjadi patokan dan ukuran. Karena sebagaimana yang lainnya, ijtihad dan pemahaman itu tak berlepas dari kritikan. Bisa jadi benar dan mungkin pula salah, menurut ukuran al-Qur’an dan Sunnah.

Ketika muncul perselisihan di sekitar manhaj dan problematika jama’ah, maka masalah itu harus dikembalikan kepada nash-nash syar’i. Harus menerima tunduk dan ridha kepada keputusan syara’ tersebut.

Nash-nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah itu saling menopang untuk memperkuat masalah ini. Satu ayat saja sudah cukup untuk menampakkan kebenaran, cukup untuk berdalil dan menjadi dasar pengalamannya.

Evaluasi terhadap Jama’ah-jama’ah Islam, Dr. Zaid bin Abdulkarim Az-Zaid

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2007 in Artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: