RSS

Hukuman

05 Aug

Dikisahkan sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun bernama Ita, bersama sang pembantu (khadimat) dirumah. Namanya juga anak-anak. Ita pun suka mengeksplorasi diri. Sambil bermain-main Ita mencorat-coret tanah di halaman dengan sapu lidi, sementara pembantunya menjemur kain dekat garasi. Puas dengan mencorat-coret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba untuk menggores mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru, mobil tersebut jarang digunakan ayahnya di kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut dengan coretan gambar Ita.

 

Begitu ayahnya pulang, dengan bangga Ita memberi tahu tentang hasil karyanya, gambar-gambar yang sudah ada di mobil baru ayahnya tersebut. Bukan pujian yang diterimanya, melainkan kemarahan yang meledak-ledak. Pertama kali yang terkena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tidak mengawasi Ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anak, maka si Ayah mulai mengajarkan anaknya, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pukulan. Dipukullah kedua telapak tangan dan punggung tangan anaknya dengan apa saja yang ditemukan di situ. Mulai dengan mistar, ranting, sampai lidi disertai luapan emosi yang tidak terkendali.

 

”Ampun, ’Yah! Sakit… sakit, ampun!” jerit Ita sambil menahan sakit di tangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Si-Ibu hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan oleh suaminya.

 

Puas menghajar anaknya, si ayah menyuruh pembantunya untuk membawa Ita ke kamarnya. Dengan hati yang teriris pilu, sang pembantu membawa Ita ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan Ita menjerit-jerit pedih. Esoknya tangan Ita mulai membengkak, sementara ayah dan ibunya tetap bekerja seperti biasa. Ketika dilaporkan oleh pembantunya, ibu Ita hanya mengatakan, ”Oleskan obat saja!”

 

Hari berganti hari, hingga suhu badan Ita mulai panas karena luka tangannya sudah terinfeksi. Ketika dilaporkan, orangtuanya hanya mengatakan supaya diberi obat penurun panas. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan Ita mulai mengigau. Buru-buru mereka membawa Ita yang sudah tampak melemah ke rumah sakit pada malam itu juga.

 

Hasil diagnotis dokter menyimpulkan bahwa demam Ita berasal dari tangannya yang sudah infeksi dan busuk akibat luka-lukanya. Setelah seminggu diopname di sana, dokter memanggil ayah dan ibunya dan mengatakan, ”Tidak ada pilihan lain….”

 

Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena infeksi yang terjadi sudah terlalu parah. ”Ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawa Ita, tangannya harus diamputasi!”

 

Mendengar berita ini, orangtua Ita bagai disambar petir. Dengan air mata berurai dan tangan yang bergetar, mereka menandatangani surat persetujuan amputasi anak yang paling dikasihinya.

 

Setelah sadar dari pembiusan operasinya, Ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tangannya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi, dia melihat kedua orangtuanya dan pembantunya menangis disampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ita berkata kepada orangtuanya, ”Ayah…Mama, Ita tidak akan melakukannya lagi… Ita sayang Ayah, sayang Mama, juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencorat-coret mobil Ayah!” Si Ibu dan ayah semakin menangis mendengar kata-kata Ita tersebut.

 

”Yah, sekarang tolong kembalikan tangan Ita, untuk apa diambil? Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti Ita mau main dengan teman-teman karena tangan Ita sudah diambil. Ayah…Mama, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja. Ita mau menyalami Ayah, Mama dan Bibi untuk minta maaf!”

 

Menyesal bagi kedua orangtua Ita sudah tiada guna, nasi sudah menjadi bubur.

 

***

 

Pemberian hukuman memang merupakan salah satu alat yang ampuh untuk menegakkan disiplin seseorang selain reward, baik di lingkungan keluarga, organisasi, komunitas, maupun perusahaan. Hukuman yang efektif dan waktu yang tepat akan menghasilkan dampak perubahan tingkah laku yang optimal. Alangkah bijaknya jika kita mencegah terjadinya kesalahan melalui pemberian motivasi dan keteladanan yang maksimal.

 

Kenyataannya, banyak orang dengan bangga memberikan hukuman di depan orang lain, baik itu berupa teguran maupun tindakan disiplin lainnya. Hukuman yang selama ini terjadi, lebih diarahkan pada pelampiasan kekesalan dan dendam pribadi, bukan perubahan tingkah laku sebagai tujuan pemberian hukuman itu sendiri.

 

”si pembuat peraturan harus keras pada dirinya sendiri untuk konsisten dengan aturan yang dibuat terlebih dahulu!”

 

 

Zainuri Hanif

Ahad, 5 Agustus 2007_Ambarrukmo

www.futuh.wordpress.com

 

sumber : “Half Full-Half Empty.” MQS publishing

   

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2007 in Artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: