RSS

Bukan Sekedar Peran Biasa

19 Jul

Rasulullah Saw terkejut. Hari itu ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya. Buru-buru beliau bertanya kepada para sahabatnya. Ternyata wanita tersebut sudah meninggal dunia.

Rasulullah heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tak diberi tahu. Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele. Ia hanya tukang sapu. Rasulullah minta untuk ditunjukkan letak kuburan wanita itu. Rasulullah saw pun segera melakukan sholat ghoib.

Kisah ini menunjukkan bahwa sebesar apapun peranan seseorang tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah semua dibutuhkan. Demikian juga dalam tatanan kemasyarakatan. Harus ada yang jadi pemimpin. Konsekuensi logisnya harus ada yang dipimpin, rakyat, bawahan, bahkan pesuruh sekalipun.

Simak perihidup para sahabat. Mereka mempunyai kemampuan beragam. Ada yang mengandalkan ketajaman lisannya dalam berdakwah, kekuatan fisiknya, keahlian dalam memainkan pedang, ingatan yang tajam, kedermawanan dalam bersodakoh maupun kelebihannya masing-masing (baca 60 Perihidup Sahabat Rasulullah).

***

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz memanggil salah satu Gubernurnya di Malta, Ja’unah bin Harits. Ketika itu, peperangan baru saja dimenangkan. Berbagai hasil rampasan perang dibawa serta menghadap Umar bin Abdul Aziz.

“Apakah ada korban dari pihak kaum Muslimin?” tanya sang Khalifah.

Jau’nah menjawab,”Tidak ada, kecuali hanya seorang lelaki biasa.”

Tak disangka, seketika Umar bin Abdul Aziz marah besar mendengar jawaban Ja’unah.

“Apa katamu, hanya seorang lelaki biasa?” kata Umar dengan nada tinggi.

“HANYA SEORANG LELAKI BIASA?” Umar mengulangi kata-katanya.

Umar menambahkan, “kamu datang ke sini membawa kambing, sapi, lalu seorang muslim gugur kamu bilang hanya seorang lelaki biasa? Sungguh kamu tidak akan menjadi pejabatku, tidak juga keluargamu, selama aku masih hidup.

Kemarahan Umar begitu dahsyat. Gubernur yang sukses dalam mengemban tugas itu dipecat. Selamanya ia tidak akan menjadi pejabat di jaman Umar bin Abdul Aziz. Bahkan juga keluarganya, tak akan ada yang diberi jabatan. Kemarahan itu bukanlah karena seorang yang mati syahid. Namun lebih disebabkan oleh sikap sang Gubernur yang dengan gegabah merendahkan rakyatnya.

***

Ikhwah fillah. Ada orang-orang biasa, yang karena keislamannya ia menjadi luar biasa. Setidaknya sampai batas ia menjadi Muslim, berideologi dan beraqidah Islam. Itu saja sudah lebih cukup untuk dihargai.

Dalam timbangan kehidupan yang kian tidak adil, kita perlu belajar arif. Tengoklah sejenak orang-orang yang mungkin secara lahiriah memang biasa-biasa saja. Siapa tahu mereka justru bisa menjadi tempat belajar yang sesungguhnya. Di dunia ini sangat banyak orang-orang biasa yang sesungguhnya menyimpan kebaikan dan kebasaran yang luar biasa. Wajah mereka mungkin tidak pernah muncul di televisi, dengan segala aksesoris gemerlapnya. Nama mereka mungkin tak pernah tertulis di koran lokal apalagi nasional. Mereka orang-orang yang mungkin sering dianggap tidak ada, tapi peran mereka sangat terasa.

Orang yang hebat tidak hanya yang sudah terkenal. Sebagaimana orang yang terkenal belum tentu sesungguhnya hebat. Maka tidaklah adil ketika hidup hanya dipihakkan kepada ketenaran dan nama besar.

Peran sebagaimana anak kecil dalam pentas drama sekolah (kolom nasihat Irfan Toni Herlambang, Saksi) sungguh sebuah contoh yang tepat. Ketika makan malam, sang anak bercerita tentang sekolahnya.

“Ayah aku punya cerita dari sekolah.”

“Ada apa sih kamu tampak begitu bersemangat?” kata ayah.

“Ayah aku ikut drama di sekolahku! Pokoknya Ayah harus datang ketika aku pentas nanti.”

“Oh ya? Kamu dapat peran apa, jadi putri rajakah? Atau jadi kelinci seperti boneka milikmu?” Tampak sang ayah membuat mimik kelinci dengan raut wajahnya.

“Tidak. Aku dapat peran yang lebih hebat.”

“Aku dapat tugas bertepuk tangan!”

Ayah dan Ibu saling berpandangan.

“Maksudmu! KAMU CUMA JADI PENONTON BEGITU?”

Si kecil sibuk meralat ucapan sang Ayah, “Bukan-bukan. Kata Ibu guru, aku bertugas memberikan semangat buat teman-temanku.” Ada nada bangga terlihat di sana. “Oh ya, Ibu guru juga bilang, peranku tak kalah dengan lainnya!” Kata sang anak dengan bangganya.

***

Semua orang dengan kelebihan masing-masing pasti mempunyai peran. Sang Maha Sutradara tentu telah memberi kita peran terbaik yang dapat kita lakukan. Sang Maha Sutradara sangat paham dengan kemampuan “akting” dan “pentas” yang kita miliki.

Ya. Seseorang akan berarti jika ia punya prestasi. Prestasi dalam bidang yang kita mampu. Apapun itu.

Nah, apalagi yang kita tunggu? Bentangan dakwah di masyarakat ini begitu luas. Apalagi jika kita teropong lebih jauh ke luar sana. Banyak peran yang bisa kita ambil. Jadi aktivis kampung, sekolah, masjid, dan lingkungan kerja nanti adalah sekian dari banyak medan dakwah yang tersedia. Apalagi kebutuhan kader (du’at) ke depan lebih banyak. Ya, kita harus mengimbangi tuntutan masyarakat yang mulai menerima dakwah ini.

Apalagi yang ditunggu?……….

Nah, (untuk kesekian kalinya) tunggu apalagi, buat yang masih enggan mengambil peran, apapun peran itu, segeralah mengambil peran! Jadilah panitia dalam berbagai kegiatan, di Kampus : Ospek, AAI, pengurus BEM, Jurusan, maupun yang lebih memilih aktif di Kampung (masjid) danSsekolah….Jangan terlalu memilih-milih peran. Dakwah bukan prasmanan Akhi! Yang dipilih hanya yang disukai dan cocok dengan karakternya. Meskipun dalam beberapa kondisi kita gak boleh memaksa, karena keberhasilan dan keefektifannya tergantung dari hati dan kemauan.

Sie Acara, Perkap, Pemandu, Pubdekdok dan lain-lainnya sama aja deh. Bahkan terkadang lebih mulia kok yang memegang struktur bawah, tentu karena keikhlasannya. Sebagaimana kisah seorang rekan perjuangan senior kami di FSRMY yang jago nempel pamflet. Untuk hal lain, ia memang tidak sebaik teman-temannya yang sudah berumur 30-an tahun. Tapi jika sudah ada kerjaan untuk nempel pamflet, sampe larut malampun dengan mengontel ia rela berkeliling dari masjid-ke masjid. Itulah mengapa semua ikhwah menghargai jasa beliau. Benar-benar bisa diandalkan :: [hnf]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2007 in Artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: