RSS

Menang Tanpa Berargumentasi

15 Jul

Jika saya berargumentasi, saya ingin menang
Kemenangan adalah ketika kita memaksa orang lain untuk meletakkan senjata-senjata emosional dan intelektualnya dan menyerah kalah. Dulu saya percaya jika mau memenangkan argumentasi, lawan haruslah dipukul bertubi-tubi sampai menyerah dan terdiam. Bagaimana hal ini jika dipraktekkan di rumah, kampus, sekolah dan tempat lain? Tepatkah definisi ini?

Hati-hati dengan kata. Kata-kata bisa membunuh dan kata-kata bisa ikut melukai! Hukuman kematian yang disampaikan oleh seorang hakim hanyalah terdiri dari kata-kata. Kata-kata penolakan, kata-kata pengkhianatan, kata-kata kebencian, kata-kata penyangkalan dapat membunuh setajam seperti pisau belati. Kata-kata mengakibatkan peperangan.

Menggunakan argumentasi sebagai sebuah senjata untuk melukai telah memberikan reputasi buruk pada argumentasi. Saya memikirkan teman saya yang bertipe eksplosif mirip seperti pistol terkokang dengan pemicu lebih dari satu. Semua siap ditembaki, semua siap dikomentari!

Argumentasi bukanlah sebuah proses dimana kita berusaha menghancurkan orang lain. Argumentasi adalah sebuah alat dengannya kita dapat mencapai suatu akhir, memuaskan sebuah keingingan, memenuhi gairah. Argumentasi adalah mekanisme, dengannya kita menyingkapkan kebenaran-kebenaran bagi kita.

Muhammad SAW dengan sabar senantiasa menyuapi seorang Yahudi buta sampai akhir hayat. Padahal sang Yahudi tersebut selalu menyumpahserapahi, tidak tahu bahwa yang selama ini menolongnya adalah Muhammad. sampai suatu saat sang Yahudi tersebut mendapati yang menyuapi Abu Bakar, dan dia merasakan sentuhan yang berbeda. Sehingga diberitahukannya kepada sang Yahudi tadi bahwa selama ini yang menolongnya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Gemetarlah sang Yahudi tersebut, betapa agungnya sosok Muhammad SAW. Akhirnya kemenangan hakiki tercapai, yaitu masukknya ia kedalam barisan Muslim.

Saya jadi teringat kepala sekolah kami (SMA 1 Jogja), pak Bashori. Bagaimana cara beliau mengingatkan mas tukang kebun yang sering terlambat menyapu halaman sekolah ketika siswa sudah masuk kelas. Apa yang dilakukannya? Ternyata pagi berikutnya ia datang pagi-pagi seperti biasa, diambilnya sapu dan disapulah seluruh halaman sekolah yang kotor oleh daun-daun rontok. Diambilnya gerobak sampah kuning di pojok sekolah, didorongnya sendiri dan dimasukkan sampah itu sedikit demi sedikit ke gerobak sampah tadi. Orang tua siswa yang tidak tahu tentu berpikir, ”wah necis bener tuh tukang kebun, pake dasi lagi!” ^_^ Tapi tidak begitu dengan pak Satpam dan tukang kebun yang telat itu, segera mereka bergegas membantu menyapu. Tentunya dengan perasaan nggak enak dan segan. Hari berikutnya, pagi-pagi benar tanpa diminta masing2 orang menjalankan tugasnya dengan baik…

Bagaimana dengan kita?
Zainuri Hanif, Ambarrukmo, 11 Juli 2007

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on July 15, 2007 in Artikel

 

Tags: , , , ,

One response to “Menang Tanpa Berargumentasi

  1. ario

    August 21, 2007 at 10:30

    Memang benar akh, kadang kita ingin memenangkan suatu perdebatan yang tanpa sadar ditempuh dengan melukai hati orang lain. Agaknya pemahaman akan perasaan orang lain sering luput dari hati kita. Alhasil emosi kita lebih mendominasi, yang ujungnya bisa jadi ketersinggungan dan luka di hati masing-masing.
    Cukup menjaga lidah dan lebih mengutamakan ukhuwah saat berdebat, bisa menjadi jalan keluarnya.
    Jazakumullah atas artikel antum, membuat ane jadi lebih mawas diri saat bergaul dengan orang lain.

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: