RSS

DI SEPANJANG SEJARAH …… (part 1)

15 Jul

Sebenarnya peperangan yang berlangsung lama antara Islam melawan kemusyrikan tidak sebanding dengan peperangan yang terjadi antara Islam melawan ahli kitab : orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi, fakta ini tidak menafikan fakta bahwa sikap orang-orang musyrik terhadap Islam adalah selalu seperti yang digambarkan oleh potongan ayat-ayat surat At-Taubah :

“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyirikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan kamu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. At Taubah [9] : 8-10)

Itulah sikap abadi kaum musryik terhadap seluruh rasul dan kerasulan sebelumnya adalah representasi sikap kemusyrikan terhadap agama Allah secara umum, sehingga dimensi-dimensi peperangan semakin beracabang, dan sikap mereka memperlihatkan diri dalam bentuk aslinya, seperti yang digambarkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang kekal tersebut, di sepanjang sejarah umat manusia, tanpa satu pun pengecualian.

Apa yang telah dilakukan kaum musyrik terhadap Nuh ‘alaihis-salam, Hud ‘alaihis-salam, Shalih‘alaihis-salam, Ibrahim‘alaihis-salam, Syu’aib‘alaihis-salam, Musa‘alaihis-salam, Isa‘alaihis-salam, dan orang-orang yang beriman di zaman mereka? Lalu apa juga yang telah dilakukannya terhadap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang beriman di zaman mereka? Ternyata, “Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat mereka terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian” setiap kali mereka unggul terhadap orang-orang beriman dan mampu mengalahkan mereka.

Lalu, apa juga yang telah dilakukan kaum musyrik terhadap orang-orang beriman pada hari-hari penyerangan kedua musryikin yang dilakukan oleh pasukan Tartar? Apa yang dilakukan kaum musyrik dan kaum ateis hari ini terhadap orang-orang Islam di seluruh dunia empat belas abad kemudian? Ternyata, “Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat mereka terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian”, persis seperti yang ditegaskan ayat al Qur’an yang mahabenar dan abadi itu.

Tatkala kaum paganisme Tartar berhasil mengalahkan umat Islam di Baghdad, terjadilah tragedi berdarah seperti yang telah direkam oleh riwayat-riwayat sejarah dan seperti yang akan kita cukupkan penuturan tentangnya dengan petikan-petikan sekilas dari buku sejarah karya Abul Fida’ (Ibnu Katsir) yang berjudul Al-Bidayah wa An-Nihayah, seperti yang diriwayatkannya dalam Bab “Kejadian-Kejadiaan Tahun 656 Hijriah).

Mereka menyerang kota Baghdad, lalu membunuh siapa saja yang bisa mereka bunuh : pria dan wanita, anak-anak dan orang tua, orang dewasa dan bayi. Banyak dari mereka yang menyembunyikan diri ke sumur-sumur, dan ke saluran-saluran air. Mereka menyembunyikan diri selama berhari-hari tanpa pernah sekalipun kelihatan.

Sekelompok orang dari mereka masuk toko dan menutup pintunya, lalu bala tentara Tartar membukanya, kadang mendobraknya dan kadang dengan membakarnya, lalu mereka merangsek masuk, orang-orang itu berlarian menghindari pengejaran mereka ke tempat-tempat yang tinggi, orang-orang Tartar itu membunuh mereka dengan senjata-senjatanya, hingga talang-talang di gang-gang kota mengalirkan darah, Inna lillah wa inna ilahi raji’un. Begitu pula di masjid-masjid, tempat-tempat perkumpulan, dan ribat-ribat (tempat pelatihan) kaum sufi. Tidak ada yang selamat dari mereka kecuali ahlu dzimmah, Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang yang berlindung kepada mereka atau ke istana perdana menteri Ibnul ’Alqami ar Rafidhi (asy-Syii).

Sebagaimana diketahui, ahlu dzimmah (orang-orang Yahudi dan orang-oarng Nasrani) yang menulis surat kepada orang-orang Tartar untuk menyerang ibukota kekhalifahan Islam dan menumpas Islam serta para pemeluknya di sana. Mereka pulalah yang menunjukkan titik-titik lemah Baghdad, ikut terjun secara langsung dalam tragedi ini, dan melakukan penyambutan luar biasa terhadap kaum paganisme itu, agar mereka menumpas umat Islam yang selama ini memberi mereka jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.

Pada peristiwa ini sekompok pedagang mengeluarkan harta benda yang tidak sedikit agar mereka dan harta mereka selamat. Setelah sebelumnya kota terindah, kini Baghdad menjadi kota yang hancur, ia tidak dihuni kecuali oleh sedikit penduduk, dalam keadaan penuh ketakutan, kelaparan, kehinaan, dan kemelaratan.

Para sejarawan berbeda pendapat tentang jumlah orang Islam yang terbunuh di Baghdad dalam tragedi itu. Ada yang mengatakan 800.000, 1.000.000, atau 2.000.000 orang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un wala hawla wala quwaata illa billahil aliyyil azhim. Mereka masuk Baghdad pada akhir Muharram sementara pedang mereka terus-menerus menghabisi penduduknya selama empat puluh hari. Pembunuhan terhadap Khalifah Al-Mu’tashim Billah, Amirul Mukminin, terjadi pada Rabu, 14 Shafar. Kuburannya diratakan. Usianya ketika itu adalah 64 tahun 4 bulan. Masa kekhalifahannya 15 tahun 8 bulan dan beberapa hari. Putra sulungnya, Abul Abbas Ahmad, dibunuh juga bersamanya dalam usia 25 tahun. Kemudian disusul oleh putra keduanya, Abul Fahdl ’Abdurrahman dalam usia 23 tahun. Sementara putra bungsunya, Mubarak, dan ketiga saudara perempuannya, Fathimah, Khadijah dan Maryam dijadikan tawanan.

Guru istana kekhalifahan, Syaikh Muhyiddin Yusuf bin Syaikh Abul Faraj bin Al Jawzi juga dibunuh. Beliau adalah musuh perdana menteri, dan dibunuh juga bersama ketiga putranya: Abdullah, Abdurrahman, dan Abdul Karim, serta para pembesar kekhalifahan satu per satu, antara lain Mujahidudin Ibak, Syihabuddin Sulayman Syiah, beberapa Imam ahlussunnah wal jamaah serta para bangsawan kekhalifahan.

Seseorang dari Bani Abbasiyah diseru untuk keluar istana kekhalifahan, ia pun keluar bersama anak-anak dan istri-istrinya dan pergi ke pekuburan al-Khilal, di daerah Mandharah, disana ia disembelih seperti kambing, sementara beberapa orang putri dan hamba sahaya yang mereka pilih, mereka tawan. Ketika itu dibunuh pula mahaguru dan penasihat khalifah, Shadruddin Ali bin An-Nayyar, beserta para khatib, imam dan penghafal Al Qur’an. Sehingga berhentilah seluruh kegiatan masjid, dan sholat sholat Jum’at di Baghdad dalam waktu beberapa bulan.

Sesudah berakhir ketetapan yang telah digariskan, dan setelah empat puluh hari berlalu, Baghdad benar-benar kosong. Ia tidak dihuni selain oleh sangat sedikit orang. Sementara bangkai orang mati bertumpuk-tumpuk di jalanan laksana perbukitan. Hujan turun dan mengubah penampilan mereka sehingga bangkai-bangkai itu memenuhi kota ini dengan bau anyir dan membuat udara berpolusi. Terjadilah wabah penyakit yang luar biasa hingga ia menyebar dan menyeberang, melalui perantaraan udara ke Syam. Banyak orang yang mati karena perubahan udara dan rusaknya angin ini sehingga masyarakat pun mesti merasakan kenaikan harga-harga kebutuhan, wabah penyakit, kepunahan, dan bencana secara bersamaan.

Tatkala Baghdad telah dinyatakan aman, keluarlah dari dalam tanah orang-orang yang sebelum ini bersembunyi di dalam bungker-bungker, saluran-saluran air, dan perkuburan-perkuburan. Mereka seakan orang-orang mati yang dibangkitkan dari perkuburannya. Sebagian mereka mengingkari sebagian yang lain, bapak tidak kenal anaknya dan saudara tidak kenal saudaranya. Lalu merekapun harus merasakan wabah penyakit yang luar biasa itu, sehingga satu per satu dari mereka punah dan menyusul orang-orang yang dibunuh sebelum mereka… dan seterusnya… dan seterusnya…”

Ini adalah salah satu potret dari realita sejarah tatkala kaum musyrikin memerangi umat Islam. “Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat mereka terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian”, lalu apakah potret sejarah yang berasal dari masa lalu yang telah lama dan tenggelam dalam kegelapan itu hanya dilakukan oleh orang-orang Tartar di masa itu saja?!

Tidak, sekali-kali tidak! Potret-potret realita sejarah modern tidak berbeda dengan potret ini!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2007 in Artikel

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: